Studi di Luar negeri, mengapa tidak?!

Oleh : Winda Monika, alumni angkatan 2009

Saya merupakan mahasiswa generasi pertama Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya bisa melanjutkan pendidikan magister di Graduate School of Library, Information, and Media Studies (GSLIMS), University of Tsukuba, Jepang. Semoga bermanfaat buat rekan-rekan yang juga memiliki cita-cita seperti saya.

Kenapa harus keluar negeri?

Kilas balik beberapa tahun lalu, saat itu saya duduk dibangku kuliah semester lima. Saya mengikuti kegiatan Stadium General yang diadakan oleh Jurusan KURTEKPEND bertemakan “Kuliah di Luar Negeri” yang menghadirkan pustakawan dari Amerika Serikat dan beberapa dosen PERINFO FIP UPI yang merupakan lulusan luar negeri sebagai pembicara. Di sesi tanya jawab, saya sempat menanyakan beberapa pertanyaan saat itu “kenapa harus kuliah di luar negeri? Apa perbedaan kurikulum Library and Information Science (LIS) luar negeri dan dalam negeri?” dan lain-lain. Salah satu pembicara mengatakan “…di luar negeri akan membuat pola pikir dan wawasan anda menjadi terbuka”. Sejak saat itu saya semakin penasaran. Saya pun merasa mendapatkan suntikan baru yaitu menjadikan luar negeri sebagai target yang harus saya capai. Keinginan ini saya genggam erat dan bertekad sepenuh hati untuk bisa merasakan pengalaman yang serupa dengan beliau-beliau yang telah menginspirasi.

Saya berasal dari Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Bagi saya yang pernah merantau, keluar dari zona aman dan nyaman merupakan suatu tantangan tersendiri. Berdasarkan pengalaman merantau saat S1 dulu, pengalaman itu mengajarkan saya untuk menjadi pribadi mandiri, solutif, kreatif dan percaya diri. Nilai-nilai berharga itulah yang mensugesti saya bahwa dengan belajar di luar negeri tentu akan lebih banyak dan kaya pengalaman hidup yang akan saya dapatkan. Bukan berarti belajar di negeri sendiri itu tidak menantang, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak keungulan sistem pendidikan yang ditawarkan oleh universitas-universitas di negara maju yang tidak dimiliki oleh negara berkembang.

Tips dan triks:

Berikut tips dan triks:

  1. Persiapkan kemampuan berbahasa asing. Bahasa Inggris menjadi hal mutlak yang terlebih dahulu harus dipersiapkan. Perhatikan betul persyaratan yang diperlukan untuk melanjutkan ke universitas yang ingin dituju.
  2. Tentukan passion bidang studi yang ingin kita ambil saat menempuh studi nantinya. Seperti saya, saya tertarik dibidang IT namun tidak ingin keluar jalur LIS sehingga saat pencarian supervisor dulu, saya cari supervisor yang bidang keilmuannya di information science (digital library).
  3. Hunting supervisor. Buatlah banyak list supervisor yang akan dihubungi. Hal ini sebagai antisipasi apabila aplikasi kita tidak diterima oleh salah satu professor, masih ada kemungkinan diterima oleh professor yang lain.
  4. Persiapkan research proposal. Saat sudah mendapatkan daftar professor, baca penelitian-penelitian yang telah dan sedang dilakukan oleh professor tersebut untuk selanjutnya dibuat riset proposal yang berkaitan dengan bidang beliau.
  5. Hubungi professor tersebut melalui email. Perhatikan kaidah-kaidah penulisan email formal. Jangan alay, apalagi lebay!
  6. Jika sudah dapat kesediaan professor tersebut untuk menjadi supervisor, baiknya minta surat penerimaan (Letter of Acceptance). Surat ini cukup dibutuhkan untuk melamar beasiswa.
  7. Selalu cek website universitas yang ingin dituju untuk melengkapi aplikasi pendaftaran sesuai deadline yang ditentukan.
  8. Setelah berikhtiar, maka berdoalah!

Mengapa memilih Jepang?!

Alasan saya memilih Jepang adalah karena suami saya diterima sebagai mahasiswa program doktoral di Kyoto University, Jepang. Di awal menikah dulu, kami sama-sama memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan di luar negeri. Oleh karena itu, kami pun mengirimkan riset proposal kami ke berbagai negara. Di antara semua negara itu, professor dari Jepanglah yang memberikan respon paling awal. Saya mendapatkan jawaban dari salah satu professor di Keio University. Hanya saja, saya mengurungkan niat melanjutkan pendidikan di universitas tersebut dikarenakan mengharuskan saya mengambil kelas persiapan bahasa Jepang selama setahun.

Selama di Jepang, saya tidak hanya berupaya mencari supervisor tetapi juga mencari beasiswa. Alhamdulillah saya memperoleh Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan Republik Indonesia.

Untuk jurusan perpustakaan dan informasi di Jepang, sayangnya tidak banyak pilihan. Hanya satu University of Tsukuba saja yang memiliki program kelas internasional dengan bahasa pengantar yaitu bahasa Inggris. Oleh karena itu, saya pun mencari professor pembimbing di universitas tersebut. Peminatan saya saat ini memang berbeda jauh dengan LIS yang saya pelajari saat S1 dulu. Disini, saya lebih mendalami perpustakaan digital dibandingkan ilmu perpustakaan dan informasi konvensional. 

Setelah satu semester mengenyam pendidikan magister di GSLIMS, University of Tsukuba, saya merasa betul adanya yang dikemukan oleh dosen saya saat kuliah umum dulu bahwa kuliah di luar negeri menjadikan wawasan saya terbuka. Berbagai isu global terkait keilmuan LIS saya pelajari disini. Saya pun mendapatkan kesempatan berharga bertukar pikiran dengan berbagai teman lintas negara dan benua. Hal Itu menjadikan semakin banyak saya membahas dan mengulas LIS, terasa semakin sedikit yang saya tahu. Itu memotivasi saya lagi untuk terus belajar dan tak henti menimba ilmu.

Selain itu, hal yang paling membuat saya merasa bahwa perpustakaan begitu dekat dihati mahasiswa di universitas saya ini adalah akses yang tak terbatas di perpustakaan baik offline maupun online. Mahasiswa mudah saja mengakses koleksi perpustakaan melalu website. Juga ada banyak jurnal-jurnal internasional bereputasi yang dapat diakses dengan mudah dan tak berbayar tentunya. Layanan perpustakaan pun dibuka hingga larut malam.

Saya merasakan tidak hanya akademisi di universitas yang begitu professional, tenaga administratif di universitas saya pun begitu dapat diandalkan. Mereka cepat tanggap dalam memberikan respon kepada mahasiswa. Ketika semua elemen di universitas memberikan kinerja optimal, profesionalitas ini lah yang kemudian menjadikan kualitas universitas menjadi ungul. Informasi terkait administrasi mahasiswa disajikan transparan dan dapat diakses dengan mudah melalui website.

Hambatan selama berkuliah di luar negeri?!

Dikarenakan bidang yang ingin saya perdalam yaitu digital library oleh karena itu saya mendapatkan tantangan tersendiri untuk belajar programming language dan banyak teknologi baru.

Dalam aspek penilaian selama kuliah, attitude adalah hal yang terpenting yang harus diperhatikan. Hal ini sudah menjadi budaya di Jepang bahwa tiap orang harus saling menghargai, memiliki etos kerja keras, serta patuh pada setiap aturan yang berlaku. Sehingga, memiliki intelegensi tinggi tidak cukup untuk mendapatkan grade yang tinggi, harus disertai perilaku yang baik pula.

Kuliah di luar negeri tidak hanya ada gambaran indah saja. Banyak suka cita yang saya alami disini. Saat pertama kali ke Jepang, saya akui saya merasakan cultural shocked. Disini segala sesuatu harus tepat waktu.

Orang Jepang sangat menghargai pemberian orang lain, mereka akan selalu berusaha membalas memberikan hadiah apabila kita memberikan hadiah kepada mereka. Tapi jangan disangka bahwa memberikan hadiah itu baik, pengalaman suami dulu saat memberikan oleh-oleh kepada Sensei, beliau sempat tidak senang. Sensei menganggap bahwa hadiah itu bentuk sogokan. Sensei mengira bahwa suami saya menyogok karena seperti yang Sensei dengar bahwa orang Indonesia itu terkenal akan budaya suap dan korupsi yang cukup parah. Semenjak itu kami belajar, bahwa jika membawakan sesuatu kepada orang Jepang baiknya memberikan makanan bukan “barang” atau “benda”.

Belum lagi dengan language barrier. Meskipun program studi saya menawarkan international program, hanya saja tidak semua staf bisa berbahasa Inggris dengan baik. Di lingkungan rumahan pun, kebanyakan orang Jepang tidak bisa berbahasa Inggris. Untuk itu, mau tidak mau untuk bisa bertahan hidup, saya harus belajar sedikit-sedikit bahasa Jepang.

Saya yang makhluk tropis ini sering struggled tiap kali perubahan musim, terutama perubahan ke musim dingin. Tidak jarang saya terserang flu ataupun demam. Ketahanan tubuh saya sangat diuji saat suhu menunjukkan angka dibawah 0 derjat. Saya pun harus lebih bersabar dan menurunkan hasrat pilih-pilih makanan. Belum lagi saat rindu akan rumah dan kampung halaman melanda.

Lebih kurang begitulah hal-hal yang saya rasakan. Bagi rekan-rekan yang begitu bersemangat untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, saya yakin dan percaya bahwa telah terlebih dahulu berfikir kelebihan dan kekurangan hidup merantau jauh di negeri orang. Sehingga semua hambatan itu sudah bukan menjadi aral yang melintang.

Saya percaya bahwa kerja keras tak pernah mengingkari hasil. Jangan pernah takut gagal! Apalagi takut mencoba!. Sebelum menjadi mahasiswa magister seperti sekarang ini, tidak terhitung berapa banyak aplikasi saya yang ditolak. Hikmahnya adalah dari tiap kegagalan, tidak menjadikan saya menyerah lantas berdiam diri. Sebaliknya, saya evaluasi diri dan terus mencoba lagi.

Pesan saya untuk kawan-kawan di PerpusInfo FIP UPI, jangan takut bermimpi dan bekerja keraslah mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Nothing is impossible in this world. Sky is the limit. Teruslah menjadi generasi pembelajar. Terutama bagi perempuan, kamu akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anakmu kelak. Oleh karena itu, persiapkanlah diri untuk menjadi guru terbaik yang berkapasitas mumpuni.

Saya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada para pendidik di Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan, Prodi Perpustakaan dan Informasi yang telah memberikan bekal berharga kepada saya berupa ilmu dan inspirasi. Jasamu akan selalu ku kenang wahai guru. Di surga tempat mu berlabuh.